Mahasiswa KKN UP45 Latih Masyarakat Olah Sampah

1
348
Foto: Istimewa

Menurut pasal 1 UU No. 18 Tahun 2018 menjelaskan bahwa, sampah ialah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau prosesnya alam yang terbentuk padat. Pengelolaan sampah sendiri dilaksanakan dengan pembatasan timbunan sampah (reduce), pemanfaatan kembali sampah (reuse), dan pendaur ulang sampah (recycle), yang biasa dikenal dengan istilah pengelolaan sampah 3R.

Berawal dari permasalahan tersebut mahasiswa KKN 2018 kelompok XVI Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta hadir menyelenggarakan Pelatihan OlShop dan Limbah Guna Ibu dan Remaja Kreatif Mancasan-Kleben Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman (19/8).

Bekerjasama dengan Bank Sampah “APEL” selaku pelatih limbah guna, menurut Icwan selaku panitia menjelaskan bahwa pelatihan terbagi dalam tiga sesi, yaitu pelatihan limbah sampah plastik oleh L.Herliyanti dan Mulyanti, pelatihan limbah minyak goreng oleh Endah dari KKN kelompok XVI UP45 dan online shop yang memfokuskan pada bagian pemasaran produk limbah yang disampaikan oleh Anggi dari KKN kelompok XVI UP45 Yogyakarta.

Sementara Gapong Maharia selaku Kepala Dusun Mancasan-Kleben dalam sambutannya menjelaskan bahwa semoga dengan mengikuti pelatihan OlShop dan Limbah Guna hari ini, peserta yang hadir nantinya dapat menularkan ilmu yang didapatnya kepada Ibu-Ibu dan remaja lainnya dalam kegiatan PKK maupun karang taruna.

“Sampah terdiri dari sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dengan membiarkannya dalam suatu lubang pembuangan dalam beberapa hari, karena sampah organik cepat membusuk. Sedangkan sampah anorganik tidak mudah dan lama untuk terurai, sehingga diharapkan untuk dimanfaatkan dan didaur ulang kembali menjadi barang yang lebih bermanfaat,” ungkap L.Herliyanti.

Herliyanti menambahkan, “Jangan sekali-kali membakar sampah plastik, karena dengan membakar sampah plastik dapat menutup pori-pori tanah, sehingga dapat mengurangi kesuburan tanah apalagi seringkali memindah-mindah tempat bakaran sampah, maka lapisan tanah yang tertutup pori-porinya dapat merata dan melebar tanpa kita sadari.”

Antusiasme peserta terlihat dari keseriusan dalam membuat bunga dan lampion dari plastik dan botol hingga selesai. Salah satu peserta mengatakan, “Sangat antusias mengikuti pelatihan dan ingin mengagendakan lagi di kemudian hari, namun mungkin terkendala dalam penyediaan bahan pemanis dalam pembuatan sabun tadi,” tutur Wulan.

Sedangkan Endah, peserta lainnya,, berharap ada tindak lanjutnya, “Semoga dapat dilanjutkan untuk kegiatan Ibu PKK yang sudah ada dan produk bisa dipasarkan serta dapat menambah ilmu ternyata sampah plastik, botol dan minyak jlantah dapat disulap menjadi suatu barang kreasi yang unik dan indah serta berguna dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Endah. (rere)

Penulis:

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here