OSPEK, Pemaksaan Manfaat ?

0
230
Teenager karya Suryadila (Foto: SwaraKampus.com)

OSPEK, Universitas, Bangga, Citra, Pendidikan, mungkin itu yang tertanam dalam jiwa seorang siswa – siswi Indonesia dikala itu menuntaskan pendidikan Sekolah Menengah Atas lantas meneruskan ke jenjang MAHA, yaitu MAHASISWA. Rasa bangga karena telah menjadi seorang MAHA, kemudian Citra masyarakat awam yang menilai lebih mampu dan menguasai pendidikan. Rasa itu berkecamuk berpadu menjadi satu ketika Bahagia telah lulus SMA dan diterima di Perguruan Tinggi.

dengan OSPEK ? kala itu yang masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seorang mantan siswa terus menghantui disetiap ajaran barunya,mengenai pro dan kontra pada setiap Perguruan Tinggi baik Swasta maupun Negri. Kemudian disini saya selaku mahasiswa yang pernah melakoni 2(dua) kali OSPEK di Perguruan Tinggi berbeda pun akan membahas melalui Konsep Prinsip Toleransi Pemikiran.

Mahasiswa, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua kata arti pada orientasi, pertama diartikan sebagai peninjauan untuk bersikap seperti arah, tempat, dan sebagainya yang benar dan tepat, dan pengartian yang kedua adalah pandangan yang mendasari pemikiran perhatian atau kecenderungan mereka dalam menjalankan kehidupan mereka di Perguruan Tinggi dengan benar dan tepat. Bicara mengenai Perguruan Tinggi serta kehidupan sang mahasiswa adalah sudut pandang entitas kampus.

OSPEK adalah proses kaderisasi yang dibutuhkan untuk organisasi kemahasiswaan sehingga keberadaannya harus tetap dipertahankan dengan tingkat harus tetap dipertahankan dengan tingkat fleksibilitas terhadap perubahan zaman yang tidak terpasung oleh tradisi semu yang memakan korban, transformasi tersebut menuntut sebuah kreativitas dalam menjawab perbahan paradigma masyarakat. (Pikiran Rakyat, 28/08/2004).

Para senior disetiap perguruan tinggi memiliki cara tersendiri untuk memahasiswakan siswanya melalui OSPEK, di beberapa Perguruan Tinggi kegiatan OSPEK dominan dengan pembebanan – pembebanan tugas saja, misalnya pembuatan atribut yang kurang estetika, penamaan penamaan yang mengandung unsur sara, adapula Perguruan Tinggi kegiatannya diisi dengan variatif seperti games – games yang mengedukasi untuk mengenal kampus serta lungkungannya.

Namun adapula yang memberikan tekanan lebih terhadap para juniornya dengan cara pelatihan mental fisik yang sifatnya cukup keras. Tetapi yang masih sangat disayangkan masih ada oknum senior yang menerapkan aksi OSPEK sebagai media pembalasan dendam OSPEK sebelumnya hingga terkadang tak luput dari aksi kekerasan hingga mengakibatkan kematian.

Tak dapat dipungkiri lagi, OSPEK sebelum memasuki dunia kampus sangatlah dibutuhkan apapun metodenya selama mengedukasi, dimomen inilah perubahan – perubahan awal dari siswa menjadi mahasiswa diperlukan. Namun apa jadinya jika kegiatan seperti ini tidak dilakukan sama sekali? Dari manakah para mahasiswa baru mengetahui akan kampusnya, mengetahui akan esensi dari gelar mahasiswa yang kini mereka sandang, mengetahui akan bagaimana gelar mahasiswa kini berperan? Mahasiswa berspesies apakah yang akan dilahirkan jika tidak ada OSPEK? Padahal disisi lain pendidikan yang mereka nikmati juga berasal dari uang – uang rakyat.

Setuju atau tidak setuju nya OSPEK tetap dibutuhkan oleh para mahasiswabaru untuk memahasiswakan mereka setelah melewati fase siswa. Namun yang lebih menjadi pertanyaan ialah metode OSPEK. Apakah yang ideal bagi para mahasiswa baru agar mereka dapat memahami makna dari status yang mereka sandang. Apapun metodenya yang terpenting ialah metode tersebut tidak menimpang dari garis orbit OSPEK sebagai sarana memahasiswakan siswa. Nilai selanjutnya ialah memahami sebagai agent og change, iron stock dan moral of voice dan tak kalah penting juga diterapkannya cinta Tanah Air dengan menyesuaikan kebutuhan.

Adapun hasilnya dalam budaya OSPEK, perlu dihilangkan kasta JUNIOR dan SENIOR lalu tanamkan kasta TEMAN, dan penghilangan kekerasan yang masih ada di beberapa Perguruan Tinggi baik saat Orientasi Mahasiswa maupun Latihan Dasar Kepemimpinan di berbagai UKM – UKM kampus, diharapkan tidak terjadi kembali kehilangan nyawa bahkan aksi bunuh diri atas ketakutan seorang siswa yang sedang menjajaki dunia mahasiswa.

Trisna Indah Puspasari
Mhs Sekretaris Politeknik Pratama Mulia
Surakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here