Dokter Gigi Yang Suka Menguntai Kata Dalam Tulisan

1
614
Foto: Istimewa

Tidak banyak orang yang berprofesi sekaligus memiliki kesukaan yang tidak saling berkaitan. Antara dokter gigi dengan menulis, utamanya fiksi. Dian Nirmalasari, alumni Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada melakoninya.

Dokter gigi yang sekilas mirip dengan artis Cut Tari ini terlahir dan besar di Wonosobo. Sejak kecil, ibunya memang menghendaki dirinya kelak menjadi seorang dokter  (gigi). Ia juga mengaku tidak tahu mengapa?

Namun setelah menjalani profesi yang diinginkan ibunya tersebut, Dian baru menyadari bahwa menjadi dokter gigi baginya sangat menyenangkan, “Senang aja, karena setiap hari bisa bertemu dengan orang yang berbeda dan membantu mereka dari masalah gigi,” ujarnya.

Foto: Istimewa

Menurutnya, dokter gigi adalah artist (penggiat seni), “Dalam menambal gigi dibutuhkan  betul skill seniman. Meski saya bukan seorang seniman yang benar-benar mandalami seni karya tapi ya disitulah seninya. Mau tidak mau harus ‘nyeni’. Selain ada juga seni dalam menangani pasien dengan berbagai karakter, misalnya anak-anak, rewel dan susah diperiksa wah ini lebih complicated,” imbuhnya.

Lantas bagaimana ceritanya sehingga ia juga termasuk produktif dalam menulis? Dian bercerita, menulis awalnya memang sekadar hobi, selain juga membaca, nonton film dan membuat roti (baking).

“Dengan menulis kita bisa meluahkan isi hati tanpa harus berteriak, tanpa harus bercerita. Dalam menulis kita juga mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang kita rasakan. Nah, serunya tuh di situ,” ungkapnya antusias.

Dian kini tengah menyusun dan siap menerbitkan sebuah novel karyanya sendiri. Novel tersebut diberi title Trilogi Niana, yang menceritakan kisah seorang dokter gigi. “Karena saya juga berprofesi dokter gigi, jadi saya bisa lebih menjiwai apa yang saya tulis,” komentar terhadap novelnya.

Ke depan harapnya, bukan tidak mungkin untuk menulis novel dengan peran profesi yang lain, meski diakui tidak mudah, “Dan itu butuh tantangan yang lebih. Tapi saya suka itu,” jelasnya.

Saat ditanya, apa sih kendalanya menulis, ia berbagi tips, “Sebenarnya tidak ada kendala, hanya saya harus menulis pada saat saya senggang. Nah, saat senggang itu kadang ide tidak kunjung datang. Berkaca dari pengalaman tersebut, begitu ada ide, saya langsung tulis. Entah di hape atau note book. Nanti saat saya sudah senggang, saya akan melanjutkan idenya,” ungkapnya.

Selain tengah menyiapkan proyek novel, dokter Dian juga dikenal sebagai netizen yang aktif dalam komunitas Kagama Virtual Writing, “Saya tergerak untuk menginisiasi, karena potensi teman-teman di kagama virtual (grup facebook), sebenarnya bagus-bagus,” terangnya.

“Dimulai sejak kami membuat lomba cerita cinta, yang kemudian kami bukukan untuk dijual dalam lingkungan komunitas. Hasil penjualan masuk dalam penggalangan dana beasiswa adik kelas di UGM ,” tambahnya lagi.

Di akhir perbincangan, dokter Dian memiliki harapan untuk generasi muda dan menitipkannya kepada SwaraKampus.com. Dian melihat, sebenarnya dengan ramainya medsos, budaya menulis di kalangan muda  sudah terbentuk.

“Tapi sangat disayangkan kalau yang ditulis adalah pesan-pesan yang mungkin sebenarnya masih bisa ditingkatkan menjadi lebih bermanfaat,” kritiknya.

Hambatan mereka selama ini menurut Dian, hanyalah faktor ketidaktahuan dan tidak banyak contoh yang membuat mereka terinspirasi untuk menghasilkan narasi yang berbobot. Untuk itu pesannya, kaum muda harus mau membaca, agar memiliki referensi yang lebih. (Awib)

 

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here