Di Balik Perang Dagang Amerika Serikat Versus Cina

1
428
Sumber foto: globalmeatnews.com

Tahun 2018 sepertinya menjadi tahun yang cukup menegangkan bagi Asia terutama dalam hal perekonomian. Bagaimana tidak, hal ini mulai mencuat seiring dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Awalnya hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan akan mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan kegiatan ekspor dan impor dengan Cina.

Pemicu dari dikeluarkannya kebijakan ini ialah Cina yang diduga telah melakukan praktik pelanggaran atas kekayaan intelektual milik Amerika Serikat. Dimana Cina dituduh telah mencuri teknologi milik Amerika Serikat yang dikembangkan oleh perusahaan Amerika Serikat di Cina beberapa waktu yang lalu.

Meskipun kasus ini telah di selesaikan pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, namun sepertinya hal ini masih menjadi isu yang sangat mengganggu pada masa pemerintahan presiden Donald Trump sekarang. Terbukti dengan Amerika Serikat yang mengeluarkan pernyataan bahwa Cina hingga saat ini masih melakukan pelanggaran terhadap kekayaan intelektual Amerika Serikat tersebut.

Sehingga, dikeluarkannya kebijakan untuk menaikkan nilai Bea masuk barang Cina ke Amerika Serikat ini, dianggap sebagai hukuman yang diberlakukan untuk Cina. Pada Selasa 3 April 2018 yang lalu, Presiden Donald Trump telah merilis proposal tarif impor terhadap Cina. Bersamaan dengan kebijakan tersebut, Presiden Trump menaikkan nilai impor sejumlah barang Cina hingga sebesar 25 persen.

Lantas bagaimanakah Cina menanggapi hal ini? Dibawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, hanya dalam hitungan jam saja, kebijakan Amerika Serikat tersebut langsung dibalas oleh Cina. Hanya dalam hitungan jam, Cina juga turut mengeluarkan kebijakan yang sama, yakni dengan menaikkan Bea masuk terhadap beberapa barang Amerika Serikat sebesar 25 persen. Tindakan berbalas kebijakan dalam perang dagang ini tentu saja memberikan dampak terhadap perekonomian Asia. Terbukti dengan hanya berjarak satu hari saja setelah kejadian ini, pada tanggal 4 April 2018, beberapa bursa Asia mengalami penurunan yang signifikan bahkan berada digaris merah.

Menurut beberapa para analisis pasar Asia, hal ini disebabkan oleh tindakan balasan Cina yang terbilang cukup keras dan berani dalam melawan Amerika Serikat. Sehingga para investor yang pada awalnya tidak memperkirakan reaksi Cina akan sedemikian keras-pun, langsung menyebabkan pasar bereaksi negatif akibat hal-hal yang terjadi ternyata sangat diluar perkiraan.

Sejak awal Cina telah memberikan reaksi terhadap pengumuman yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat perihal kebijakan ini. Cina menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak menginginkan adanya perang dagang ini, namun juga tidak akan takut apabila hal ini benar terjadi. Untuk menghndari perang dagang ini terjadi-pun Cina telah menyatakan bahwa mereka berharap agar permasalahan pelanggaran kekayaan intelektual tersebut dapat diselesaikan dengan jalur dialog. Namun, sepertinya hal lain menjadikan Amerika Serikat tetap ingin menekan Cina dengan strategi perang dagang ini.

Beberapa tahun terakhir memang dapat dikatakan menjadi masa kejayaan bagi perekonomian Cina. Bahkan, julukan Raksasa Asia pun dirasa pantas diberikan kepada Cina. sangat pesatnya kemajuan Cina dalam sektor ekonomi tentu saja membuat negara besar seperti Amerika Serikat menjadi ketar-ketir. Ditambah lagi dengan tidak adanya transparansi oleh Cina terhadap pemasukan yang didapat selama ini. Hal ini dapat menjadi sebuah dilema bagi Amerika Serikat yang sama sekali tidak mengetahui rencana kedepan Cina dengan pemasukan yang sangat besar tersebut.

Cina tentu saja bisa menggunakan keuntungan dari sektor ekonominya untuk memperkuat keadaan negaranya dari berbagai aspek, salah satunya ialah militer. Hal ini tampaknya yang menjadikan Amerika Serikat menjadi seperti mulai mengambil langkah-langkah yang sekiranya dapat mencegah langkah Cina untuk mewujudkan hal tersebut. Namun tanpa disangka justru Cina dengan berani melawan Amerika Serikat.

Rafika Widyasmara
Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here