Rektor UGM Ajak Mahasiswanya Nobar Film “Lima”

0
210
Sumber foto: Instagram/Lola Amaria

Cuplikan kisah awal dari film Lima menceritakan seorang perempuan setengah baya yang kembali memeluk agama Islam sesaat akan meninggal. Terjadi perdebatan seru antar ketiga anaknya, salah satunya diperankan oleh Prisia Nasution, tentang aturan pemakaman jenazah di Islam dan Kristen.

Di Islam semua asesoris di badan harus dilepas. Sementara salah satu pesan wasiat ibunya sebelum meninggal agar gigi palsunya jangan dilepas dan kukunya dihias dengan kutek. Tidak hanya itu, anak laki-laki tertuanya juga berkeinginan untuk menguburkan jenazah ibunya di liang lahat.

Di kalangan masyarakat masih ada aturan yang melarang warga non muslim menurunkan jenazah di liang kuburan orang muslim. Namun, di film ini anak laki-lakinya yang beragama Kristen berkesempatan menguburkan ibunya di liang kubur setelah mendapat izin dari pemuka agama.

Bahkan, kerabat keluarga dari pihak sang suami meminta izin untuk menyampaikan doa-doa pujian dalam agama Kristen saat jenazah dikuburkan dengan cara orang muslim.

Film yang diproduseri Gomulia Oscar dan melibatkan lima orang sutradara ini menarik karena mengangkat kisah-kisah nyata yang memang terjadi dan kerap bermasalah dalam keluarga Indonesia yang plural di tengah kondisi lingkungan masyarakat yang masih fanatik.

Menurut Gomulia Oscar, lima orang sutradara akan menampilkan konsep alur cerita yang berbeda. Rangkaian cerita di film tersebut dalam rangka memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyrakat, “Kita perlu membumikan ideologi Pancasila lewat kreasi film,” katanya.

Sementara Lola Amaria, salah satu penggagas film, mengharapkan kehadiran film Lima┬ábisa mendapat sambutan positif bagi masyarakat.l, “Semoga mendapat tanggapan baik dari masyarakat, pada akhir Mei ini bisa berbondong-bondong datang ke Bisokop,” harapnya.

Sedangkan rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng D Eng, menyambut baik diputarnya film Lima di kampus UGM, “Dengan menyaksikan film ini kita bisa mengambil hikmahnya dan bisa diteladani,” ungkap rektor.

Menurutnya lagi, pengajaran nilai -nilai Pancasila memang tidak cukup dengan beretorika, namun harus bisa dipraktikkan langsung dalam kehidupan bermasyarakat, “Agar keberagaman yang kita miliki makin tetap selalu ada, menjadi satu, dan semakin menjadi kuat,” imbuhnya.

Film ini akan rilis serentak di bioskop-bioskop pada 31 Mei nanti (berbareng moment hari lahirnya Pancasila 1 Juni). Meski begitu, rektor dan mahasiswa UGM telah terlebih dahulu nonton bareng film ini di Auditorium MM UGM pada Jumat (25/5) yang lalu. (Awib)

Sumber: ugm.ac.id

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here