Jurnalistik Bagi Guru

0
151
Sumber foto: dorrancescholarship.org

Budaya literasi yang sedang dikampanyekan oleh pemerintah membawa dampak yang baik bagi dunia pendidikan. Negara-negara maju memiliki budaya literasi yang sudah terbentuk sejak lama. Di era global ini kemampuan literasi harus ditingkatkan agar tidak ketinggalan informasi.

Seperti pepatah mengatakan buku adalah jendela dunia. Dengan membaca ataupun menulis semua informasi dapat kita peroleh dan kekayaan informasi yang kita miliki bisa menjadi modal penting bagi pemerintah menuju satu abad kemerdekaan mencetak generasi yang unggul di segala bidang.

Guru sebagai ujung tombak perlu selalu ditingkatakan kemampuan literasinya karena mereka langsung berhadapan dengan anak didik. Dengan diadakannya Diklat Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Sesi Data dan TI Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahrag DIY di Hotel New Saphire Yogyakarta tepatnya di Jl. Laksda Adisucipto No. 38 selama 4 hari dari tanggal 16 s.d 20 April 2018 dan diikuti oleh 50 peserta dari jenjang SD sampai SMA se DIY.

Diharapakan dapat meningkatkan kemampuan literasi sebagai jurnalis pendidikan. Dengan narasumber dari pihak profesional seperti Drs. Gunawan K. Wibisono dan kawan-kawan, memberikan pengalaman yang luar biasa bagaimana menjadi jurnalis yang baik bagi dunia pendidikan dengan memberikan informasi yang good news.

Menurut salah satu narasumber guru tidak boleh takut menulis di media massa, asalkan yang ditulis sesuai data dan fakta. Resiko menulis di media massa hanya ada dua yaitu diterima dan ditolak. Materi Diklat yang disampaikan sangatlah penting bagi guru. Ada 14 materi  pokok yang disampaikan selama 4 hari di Hotel New Saphire seperti kode etik jurnalistik, menulis opini di media massa, mengenal bahasa jurnalistik dan lain-lain.

Sebagai seorang jurnalis pemula, sangat penting dengan adanya materi kode etik jurnalistik karena menulis yang baik harus sesuai data dan tidak mengandung sara. Kode etik ini harus dipahami para guru agar dalam menulis ada aturan baku yang harus dipatuhi, tujuannya untuk mengurangi resiko-resiko yang bisa merugikan profesi sebagai guru.

Kiat-kiat menulis opini di media massa juga disampaikan oleh narasumber diantaranya adalah membuat catatan harian kemudian memanfaatkan, menulis sesuatu yang baru, mempelajari karya orang lain, menulis dengan cara yang spesifik yaitu mempunyai gaya penulisan tersendiri.

Bahasa jurnalistik juga dibahas dalam diklat 4 hari ini. Menurut salah satu narasumber, bahasa jurnalistik harus lebih komunikatif dan spesifik. Komunikatif maksudnya tidak basa-basi atau langsung ke pokok persoalan dan Spesifik  maksudnya mempunyai gaya penulisan tersendiri yaitu bahasa sederhana, kalimatnya pendek dan dengan kata-kata yang jelas.

Materi–materi tersebut sangat mendukung guru dalam membuat sebuah karya jurnalistik. Diharapkan dengan adanya pelatihan jurnalistik ini guru lebih produktif lagi menulis karya-karya di media massa. Dikpora DIY memiliki wadah tersendiri bagi para guru se DIY yang berkeinginan menulis artikel maupun fiksi yaitu majalah Candra, majalah gembira, dan majalah BIAS.

Melalui media ini guru bisa menuliskan karya-karyanya berupa artikel maupun fiksi yang bisa dibaca oleh banyak orang. Tidak hanya itu, guru juga bisa menulis artikel di media massa yang lebih luas lagi. Sudah waktunya paradigma guru mengajar di depan kelas dirubah, kemampuan literasi guru harus meningkat seiring perkembangan waktu.

Guru tidak hanya mengajar dan mendidik, tetapi juga harus bisa menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan dan aksi nyata yang membawa dampak positif bagi Dikpora DIY khusunya dan negara Indonesia pada umumnya.

Andy Fery Wijaya, SPd

Guru SDN 3 Imogiri, Bantul

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here