Intelektual Muda dan Membangun Politik Sehat

0
408
Sumber foto: kompasiana

Cara-cara berpolitik yang tidak sehat seringkali melahirkan tipikal kepemimpinan yang hanya mengandalkan pencitraan yang jauh dari sikap idealisme yang tinggi. Kecenderungan ini hampir mudah ditemukan dalam melihat sepak terjang pemimpinan yang tidak memiliki rasa keberpihakan kepada rakyat, padahal tujuan dari berpolitik tidak lain adalah untuk menentukan nasib rakyat dan stabilitas masyarakat menjadi lebih baik.

Kaum intelektual yang dianggap cerdas dan memiliki pemikiran yang jernih justru banyak ditemukan tidak ingin terlibat dalam urusan politik. Totalitas kesadara yang dimiliki kaum intelektual muda, terutama menyangkut pemikiran dan pemahaman, lebih sering diproyeksikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan semata.

Sikap pesimistik yang mewarnai cara berpikir kaum intelektual terhadap masalah politik, adalah dampak dari keadaan politik kita yang masih belum sehat. Ujung dari biang keladi kebusukan politik terletak pada adanya budaya korupsi yang begitu menggurita hampir disetiap lini sistem perpolitikan kita.

Ada satu anggapan bahwa jika kita sudah tidak percaya lagi dengan politik, maka hancur sudah masyarakat kita. Anggapan ini tentu saja dapat dibenarkan mengingat, berpolitik adalah cara bagaimana kita dapat menemukan sebaik-baiknya pemimpin dan seberapa berkualitaskan ia dapat merubah dan mensejahterakan masyarakatnya.

Biasanya, anak-anak muda masih terbatas berpolitik pada lingkungan kampus, disamping memiliki semangat yang luas biasa, mereka juga memiliki sikap idealisme yang begitu tinggi. Anak-anak muda lebih banyak terlibat dalam mengiringi perpolitikan kita, ketimbang terlibat secara langsung, karena disamping belum memiliki banyak pengalaman, cita rasa pemikiran mereka masih murni.

Lalu di mana peran intelektual muda? Bukankan mereka masih anak kemarin sore? Tanpa uang, tanpa pengalaman, dan pemikiran yang dianggap belum matang. Sebenarnya di sinilah problemnya, ada oposisi yang tidak sehat, ada pengkotak-kotakan yang salah kaprak, da nada kekeliruan yang sedari awal sudah menuntut pada kesesatan berpikir bahkan secara linier sekalipun.

Peran intelektual mudah seringkali diabaikan hanya karena mereka dianggap kurang ini kurang itu. padahal, hanya pemudalah yang secara kolektif dapat mengiringi setiap kebijakan politik yang boleh jadi sangat jauh dari nilai keberpihakan dan kepentingan terhadap rakyat. Jadi demo itu penting, bukan hanya untuk menghadang kebijakan brutal pemerintah, tetapi juga dapat dijadikan satu pertimbangan dengan memikirkan kembali apakah kebijakan itu layak diteruskan atau tidak.

Bukan sesuatu yang tidak mungkinĀ  jika pemuda dapat berperan lebih aktif dan lebih baik dari mereka yang sudah terlanjur dianggap mapan segala-galanya. Memotong generasi itu tidak mungkin, tetapi regeneras, dan kebutuhan akan pemuda yang kreatif, berjiwa tinggi dan semangat yang berapi-api, adalah sesuatu yang dibutuhkan bagi bangsa ini.

Politik sebenarnya bukan soal siapa dan kapasitas apa yang ia memiliki, tetapi lebih pada sikap individu yang memiliki semangat dan intergritas yang tinggi bagi pemenuhan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan rakyat, karena itu tidak ada yang lebih ideal dari politik kecuali bagaimana ia dapat diproyeksikan untuk kepentingan rakyat. Dan tentu saja, di atas semua itu, pemudalah yang layak diapresiasi dan mendapatkan posisi yang sesungguhnya di area politik kita.

Rohmatul Izad
Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here