Totalitas Pendamping demi Pemulihanku

0
317
Sumber foto: psychcental.com

coRefleksi Hari Bipolar Sedunia

Perayaan Hari Bipolar Sedunia jatuh pada tanggal 30 Maret. Hari Bipolar Sedunia menjadi momentum yang tepat untuk mengkampanyekan gangguan bipolar kepada masyarakat. Orang yang mengalami gangguan bipolar secara khusus, dan orang dengan gangguan jiwa pada umumnya masih menerima stigma. Oleh karenanya perlu perhatian dan informasi yang benar terkait gangguan bipolar.

Gangguan bipolar, menurut para ahli, merupakan perubahan mood (suasana hati) yang ekstrem yang ditandai dengan episode mania atau hipomania dan episode depresi sehingga menimbulkan penderitaan bagi orang yang mengalaminya. Tanda yang mudah dikenali saat episode manik biasanya orang dengan gangguan bipolar merasa memiliki banyak energi, tidak kenal lelah, tidak butuh tidur. Episode depresi ditandai dengan perasaan murung, merasa bersalah, sedih berkepanjangan. Gangguan bipolar maupun unipolar secara substansial dipengaruhi oleh gen (McGuffin et al. 2010)

Pentingnya pendamping

Orang dengan gangguan bipolar (ODB) pastinya membutuhkan dukungan dari orang terdekat. Orang terdekat yaitu care giver (pendamping), bisa keluarga sendiri atau saudara bahkan tetangga atau teman. Kasus tertentu ODB sudah tidak tinggal bersama keluarga sendiri sehingga yang menjadi pendamping justru saudara, tetangga, atau teman.

Siapapun bisa menjadi pendamping. Kemauan dan kepedulian adalah modal besar. Namun bukan hal yang mudah untuk menjadi pendamping. Mungkin saja, dalam perjalanannya pendamping akan merasa lelah dan putus asa dalam menangani ODB. Oleh karenanya, kemauan dan kepedulian saja kurang cukup sehingga perlu adanya komitmen.

Pendamping seyogianya bersedia mengikuti kegiatan berupa training, workshop, dan pelatihan lainnya untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan. Sering kali akhir dari training ada rencana tindak lanjut yang dibuat oleh peserta. Ada baiknya, rencana tindak lanjut yang dibuat oleh pendamping itu realistis dan bisa dilakukannya secara konsisten.

Alokasi waktu bagi ODB juga hal pokok. Alokasi waktu disesuaikan dengan kebutuhan dan frekuensi gejala kekambuhannya. Dalam waktu tersebut pendamping bisa memberikan pelatihan kepada ODB. Tentu saja pelatihan yang diberikan yang ringan-ringan dan terkait dengan aktivitas sehari-harinya.

Penerimaan tanpa syarat

Kondisi ODB yang satu dengan yang lain berbeda tergantung frekuensi gejala kekambuhan dan kepribadian yang dimilikinya. Oleh karenanya, menjadi tugas pendamping untuk mengenali dan bertanya apa yang dibutuhkan dari ODB yang didampinginya.

Berikut beberapa temuan hasil perjumpaan dengan ODB yang bersedia memberikan sudut pandang mengenai harapannya untuk pendamping.

ODB yang masih berjuang akan sakitnya maupun yang sedang pulih, membutuhkan pendamping yang mau “hadir”. Kehadiran pendamping akan membuat ODB merasa nyaman. “Hadir” di sini bukan sebatas ada secara fisik. Namun pendamping sungguh ada untuk menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik itu sangat membantu kestabilan ODB.

Pendamping menjadi teman mengobrol dan mengeluarkan uneg-uneg. Pendamping perlu bertanya kepada ODB terkait apa yang bisa pendamping bantu. Banyak kali pendamping berusaha memberikan berbagai macam nasihat. Namun, yang dibutuhkan adalah pendamping menahan diri untuk tidak memberi banyak nasihat. Pendamping cukup mendengarkan, sekali dua kali menganggukkan kepala, dan kemudian memberikan umpan balik dengan tutur bahasa yang sopan.

ODB membutuhkan pendamping untuk memantau gejala dan suasana hatinya secara teratur. Pendamping yang terbiasa membangun komunikasi yang hangat dan intens dengan ODB secara naluri akan mengenali pemicu dan tanda-tanda munculnya gejala. ODB sendiri berharap tidak jatuh ke dalam kondisi kesepian.

Guna menjaga suasana hatinya agar stabil, ODB berharap pendamping mengajaknya kegiatan yang menyenangkan. Hal tersebut dapat mengalihkannya untuk tidak masuk dalam episode depresi.

Ketika dalam episode depresi, ODB diminta beraktivitas yang ringan terlebih dahulu, misal merapikan tempat tidur bersama pendamping. Pendamping bisa juga memberi tugas kepada ODB untuk mencatat beberapa hal baik yang sudah dilakukannya di hari itu. Setelah dilakukan secara teratur, aktivitas lain yang bisa mendukung kesembuhannya yaitu olahraga, mendengarkan musik, menggambar, menyanyi, dan bercerita.

Penting sekali ODB diingatkan agar rutin minum obat sesuai petunjuk psikiater atau dokter jiwa. Pendamping bisa saja menyiapkan obatnya saat ODB muncul gejala atau suasana hatinya tampak berubah. Saat kondisi demikian, belum tentu ODB bisa menyiapkan obatnya secara mandiri.

ODB diingatkan untuk membiasakan diri tidur dengan jadwal yang konsisten dan durasi jam tidur yang cukup. Tidak lupa istirahat ketika sedang asyik mengerjakan sesuatu. Ketika fokus dan senang terhadap pekerjaannya sering kali ODB merasa tidak lelah dan bisa saja ODB merasa tidak butuh tidur. Kondisi seperti ini perlu dicermati oleh pendamping.

ODB menyadari bahwa dirinya ingin dimengerti akan kondisinya dengan segala gejala yang muncul. Oleh karena itu, melalui proses yang panjang pendamping harus menerima kondisi ODB apa adanya, tanpa syarat.

S P Dyan Martikatama, S.Psi

Staf Program Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat
Pusat Rehabilitasi YAKKUM Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here