Kisah Sulitnya Belajar Agama di Negeri Panda

0
69
Foto: Istimewa

Apa jadinya bila mahasiswa Indonesia belajar agama di negara sosialis seperti China? Tidak ada yang salah dengan nasehat carilah ilmu hingga ke negeri China, namun untuk ilmu pengetahuan umum yang lain.

Di bidang pendidikan agama,  pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang sangat ketat dan sudah pasti sekuler karena negara tersebut menganut sistem sosialis.

Sistem pendidikan di China harus terpisah dari masalah-masalah keagamaan, demikian salah satu regulasi pendidikan. Sekadar mengadakan pengajian rutin di negara tersebut memang bukan perkara mudah bagi sebagian besar mahasiswa yang taat menjalani ibadah.

Memang pemerintah China menjamin kebebasan umat beragama dalam menjalani berbagai aktivitas peribadatan asalkan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan mengenai aktivitas keagamaan ini sangat ketat diberlakukan oleh pemerintah China karena tidak ingin kecolongan sedikit pun akan penyusupan terorisme dan radikalisme.

“China akan mengambil tindakan tegas terhadap penyebaran ekstremisme agama guna menghindari penyusupan jaringan terorisme ke berbagai kelompok etnis minoritas dan organisasi keagamaan,” demikian dokumen berjudul “Kebijakan China dan Praktik Perlindungan Kebebasan Umat Beragama” yang dipublikasikan Dewan Pemerintahan pada 3 April 2018.

Oleh sebab itu, Kedutaan Besar Indonesia mengisahkan mereka merasa kesulitan mengundang penceramah dari luar China, apalagi jika tidak disertai dengan surat dari kantor perwakilan asing di China.

Lingkar Pengajian Beijing (LPB) yang diinisisasi kedubes beberapa kali mengalaminya. Namun bukan berarti lembaga tersebut berhenti berupaya memberikan bekal keagamaan kepada ratusan warga Indonesia yang mayoritas pelajar itu.

Ketidakhadiran penceramah karena gagal mendapatkan visa dari Kedutaan China di Jakarta bukan alasan bagi LPB untuk membatalkan kegiatan rutin. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, mereka mampu menghadirkan Ustadz Salim A Fillah dari Yogyakarta, meskipun secara virtual.

“Cara ini lebih efektif daripada teman-teman kami kecewa begitu jauh-jauh datang ke KBRI tetapi acara batal karena penceramah tidak bisa hadir,” kata Ketua LPB Zainul Vikar.

Sekitar 100 orang yang memadati aula KBRI Beijing serius mendengarkan penceramah dari Yogyakarta secara langsung dengan menggunakan perangkat komunikasi yang kemudian disalurkan ke layar monitor.

Pola pengajian pun berlangsung interaktif sehingga para peserta juga mendapatkan kesempatan mengajukan pertanyaan kepada penceramah mengenai materi yang telah disampaikan.

Untuk kegiatan keagamaan model tatap muka seperti itu biasanya digelar di dalam kompleks perwakilan RI. Organisasi keagamaan lainnya pun melakukan hal yang sama karena kompleks perwakilan RI di China memiliki kekebalan diplomatik.

Sementara untuk kegiatan keagamaan yang lebih intensif, para pelajar asal Indonesia melakukannya dengan menggunakan perangkat komunikasi elektronik secara berkelompok semacam telekonferensi. Model seperti ini tidak hanya dilakukan WNI di daratan Tiongkok, melainkan juga di Taiwan dan Hong Kong yang mayoritas kalangan pekerja migran. (Awib)

(Sumber: Humas KBRI Bejing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here