Kisah Mahasiswa Student Exchange ke Bangkok

0
220
Sumber foto: ipb.ac.id

Mimpi pergi ke luar negeri sejak kecil mengantarkan Dedi Chandra untuk enam bulan menetap di Bangkok, Thailand. Tidak hanya sekedar singgah, mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB) ini juga mengenyam pendidikan selama satu semester di Kasetsart University, Lat Yao Subdistrik, Jatujak Distrik, Bangkok.

Hal ini ia dapatkan karena sukses mengikuti program student mobility atau yang biasa dikenal dengan program student exchange melalui ASEAN International Mobility Student (AIMS). Program AIMS merupakan program yang dikelola dan didanai oleh Kemristekdikti yang bekerja sama dengan beberapa negara di ASEAN, Jepang, Singapura dan Korea Selatan.

Dilansir dari laman IPB, Selasa (3/4), Dedi memulai perkuliahannya di Kasetsart University pada Agustus 2017 lalu. Mengikuti student exchange di salah satu universitas tertua ketiga di Thailand menumbuhkan kekagumannya pada kampus yang berdiri tahun 1943 ini.

Dedi menuturkan bahwa Kasetsart University yang merupakan universitas pertanian pertama di Bangkok, memiliki kualitas infrastruktur dan manajemen yang setara dengan universitas swasta. Ia menyebutnya seperti kota kecil yang dilengkapi dengan restoran, kafe, pasar swalayan, klinik, pusat olahraga, asrama, pusat pelatihan, dan lain sebagainya.

Selama berkuliah di sana, Dedi juga banyak bertemu teman-teman dari negara lain. Hal ini pun membantunya untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris.

Sumber foto: conference.edu.ku.ac.th

”Saya memiliki banyak teman dari negara lain yang kuliah di sana juga, yaitu dari Polandia, Malaysia, Vietnam, China, dan Jepang. Kemampuan berbahasa Inggris saya sangat terasah karena mulai dari perkuliahan di kelas dan juga percakapan sehari-hari, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Jadi, program AIMS ini juga merupakan kesempatan yang sangat baik untuk melatih kemampuan bahasa Inggris,” tutur Dedi.

Ia menuturkan tidak kesulitan menjadi orang baru, karena orang-orang di sana sangat ramah terhadap orang asing dan senang ketika kita tertarik belajar kebudayaan mereka. Ia pun berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk mengikuti progam AIMS karena belajar kebudayaan negara lain secara langsung adalah cara terbaik untuk memperluas mindset, dan belajar lebih menghargai satu sama lain.

”Belajar secara langsung ke negara lain juga cara terbaik mempersiapkan diri menghadapi sistem ekonomi global yang sudah mulai diterapkan saat ini,” tutupnya. (Sumber: ipb.ac.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here