Jangkung, Penemu CFS Bisa Menghemat Biaya Listrik

0
241
Foto: Istimewa

Jangkung Raharjo, dosen Telkom University menemukan sebuah metode yang diberi nama Coarse to Fine Search (CFS). Metode tersebut mampu menghemat listrik atau Economic Dispatch (ED) hingga sebanyak 2,2 Milyar.

Temuan ini diperolehnya pada saat studi Program Doktor di Insitutut Teknologi Sepuluh November (ITS). Dipromotori Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT dan Dr Ir Hermagasantos Zein MSc, ia berhasil membuktikan bahwa metode CFS dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah ED dengan jaminan konvergensi.

Jangkung menuturkan masalah Economic Dispatch merupakan masalah multidimensi yang bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan. Hal tersebut menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan pada sistem tenaga berskala besar menjadi masalah yang rumit.

Dari hasil presentasinya, Jangkung menjelaskan masalah penghematan biaya listrik bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan. Hal itu berdampak pada optimalisasi biaya yang rumit pada skala besar.

“Di luar dua metode itu saya melihat ada metode lain yang masih bisa dikembangkan, disebut Coarse To Fine Search. Selama ini metode ini digunakan pada pergerakan sinyal video dan hanya terbatas pada 3 dimensi. Saya kembangkan supaya bisa diterapkan pada multi dimensi. Kita terapkan tidak hanya pada pengolahan sinyal video tapi pada pembangkit listrik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Jangkung menyatakan bahwa ada similaritas antara variable pengolahan video dan variable dalam ED. Menurutnya metode ini dapat membantu mengurangi kompleksitas sistem pembangkit dan mempercepat waktu komputasi.

Selain itu, metode ini memberikan jaminan konvergensi. Artinya dia bisa sampai pada titik yang dituju (terendah jika memang tujuan kita mencari biaya yang terendah). Karena metode ini bisa untuk multi dimensi, maka Jangkung memberinya nama Multi Dimension Coarse To Fine Search.

Pengujian sistem telah dilakukan pada tegangan 500 kilovolt (kV). Pengujian yang ditanamkan pada sistem tenaga Jawa-Bali ini menghasilkan sebuah fakta bahwa metode yang ditemukan Jangkung yaitu CFS sedikit banyak membantu permasalahan ED.

“Pertama saya uji untuk 8 pembangkit, 8 dimensi. Kita uji untuk sistem Jawa-Bali, hasilnya bagus. Di uji lagi dengan 47 pembangkit, hasilnya ternyata bagus juga,” tambahnya.

Hasilnya berdasarkan yang diungkapkan Jangkung, metode ini mampu menghemat biaya pembangkit listrik hingga Rp 2,2 Milyar per jam. Selama ini biaya pembangkitan listrik di Jawa-Bali mencapai di atas 8,4 milyar per jam.

Sedangkan dengan metode ini, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 6,2 milyar per jam. Terjadi penghematan 2,2 milyar per jam. Namun yang jadi persoalan adalah bagaimana metode ini dapat diaplikasikan kepada satu perangkat, “Ini yang kita sedang tindak lanjuti,” tutupnya. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here