Ailis: Gak Masalah Mahasiswa Dengan Seabrek Aktivitas

0
183
Foto: istimewa

Entah berapa persen mahasiswa yang setuju dengan pendapat Ailis. Mungkin juga justru banyak yang menolaknya. Ya, tidak jarang kita mendapati obrolan mahasiswa yang intinya bercerita betapa repotnya menjadi mahasiswa.

Harus selalu hadir di setiap jadual kuliah yang ketat. Belum lagi mengerjakan tugas yang diberikan dosen, belum kegiatan ekstra, agenda organisasi intra ataupun ekstra kampus, belum lagi ngurusin “me time”.

Foto: Istimewa

Lantas bagaimana Ailis Safitri, demikian nama lengkapnya, bisa mengatakan demikian? Tentu dia bukanlah Super Woman, tapi kamu akan terkaget setelah mendengar kisahnya. Yuk, mengenal lebih dekat mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini.

Usianya memang tidak seremaja mahasisws yang masih duduk di tahun pertama kuliah di strata 1. Meski begitu ia masih berani diadu soal keenergikan. Jika kamu yang hanya berstatus mahasiswa dan sudah mengeluh, maka Ailis begitu banyak menyandang status.

Selain mahasiswa, ia juga merupakan ibu rumah tangga dengan 2 anak usia SD. Ailis juga berstatus sebagai guru bahasa Arab sekaligus seorang kepala sekolah di SD Muhammadiyah Macanan, Ngemplak, Sleman. Itupun masih ditambah dengan keaktifan sebagai anggota di Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten Sleman.

Belum lagi aktivitasnya di beberapa komunitas guru maupun kelompok lainnya. Silahkan dibayangkan bagaimana kesibukan sehari-hari mahasiswa bergelar sarjana hukum Islam ini, “Pagi-siang rutin pengabdian di sekolah dulu, setelah itu baru ngurus perserikatan dan organisasi lain, dan kuliah,” papar Ailis.

Bagaimana dengan urusan rumah dan anak-anak? “Tidak masalah. Saya masih sempat punya waktu bersama anak-anak untuk bercanda, membimbing dalam belajar, menemani jalan-jalan, menyiapkan makan dan mengantar mereka sekolah, tuh,” ceritanya.

Apakah tidak pernah jenuh, mengeluh atau bahkan keteteran karena terlalu banyak aktivitas? Ailis yang mengaku setiap hari menempuh jarak sedikitnya 30 km itu hanya menjawab, “Saya kan juga manusia biasa,” tuturnya. Kemana-mana ia setia ditemani sepeda motor matic kesayangannya.

Ia pun bercerita bagaimana akhirnya bisa terdaftar sebagai mahasiswa S2 Program Manajemen Pendidikan UAD, “Awalnya sempat berpikir mengingat kesibukan selama ini. Bagaimana jika nanti ditambah dengan kuliah?”

“Jujur ini berkat dorongan, support dari teman-teman guru terutama juga keluarga tentunya. Dan pastinya saya tidak berani menolak kepercayaan besar yang diberikan perserikatan dalam bentuk beasiswa. Saya sendiri memang sejak awal ingin meneruskan ke jenjang S2,” jelas Ailis.

Berdasar pengalamannya, memang ada semacam tips dalam menghadapi kesibukan yang super padat, yakni: manajemen waktu, komunikasi dan enjoy, “Pertama harus mengatur waktu dengan baik ya, atur skala prioritas. Untuk itu penting selalu melakukan komunikasi kepada orang-orang terkait agar hubungan tetap baik,” ucapnya.

“Dan pamungkasnya, yang paling penting harus enjoy. Hadapi dan jalani saja, meski ada masalah. Jangan pernah menghindar. Anggap seperti mengerjakan soal ujian. Siap gak siap kan harus dikerjakan, gak mungkin justru dihindari. Dan lagi, semakin banyak aktivitas maka makin cerdas,” pesannya lagi. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here