Dari Beasiswa Hingga Program Pertukaran Guru ASEAN

0
1559
Foto: Istimewa

Pemerintah Australia memberikan sejumlah program pendidikan bagi ASEAN. Mulai dari program beasiswa hingga pertukaran pelajar dan pertukaran guru-guru dari ASEAN untuk mengajar di Australia.

Salah satu program yang ditawarkan melalui Asia Education Foundation adalah BRIDGE School Partnership. Para guru ini diberi kesempatan mengajar di Australia selama tiga minggu dan tinggal di keluarga asuh.

Hari Minggu lalu (18/3), para guru ini mengakhiri masa tugas mereka di Australia. Mereka dijamu oleh Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop di Opera House Sydney, Australia.

Beberapa di antara mereka datang menggunakan baju adat masing-masing. Mereka berasal dari negara Indonesia, Thailand, Filipina, Myanmar, Malaysia, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Singapura, dan Vietnam.

Pertemuan itu berlangsung hangat, guru berbaur dan saling berbagi cerita. Setelah mendengarkan sambutan dari Bishop dan pengurus dari Asia Education Foundation serta sesi foto bersama, mereka kemudian berkenalan dengan guru dari negara lainnya.

Dari Indonesia ada 14 guru yang mengikuti program BRIDGE ini. Mereka berasal dari tujuh sekolah yang ada di Yogyakarta, Depok, Bogor, Kalimantan, Sidoarjo, dan Bandung. Mereka mengikuti seleksi dan tes wawancara yang dilakukan oleh pihak Kedutaan Besar Australia. Mereka tiba pada 28 Februari, dan Minggu (18/3) adalah hari terakhir mereka di Australia.

“Apply dulu, BRIDGE menawarkan sekolah mana saja. Jadi seleksi sekolah dulu, baru sekolah diminta pilih empat guru dan disaring melalui seleksi tes dan wawancara jadi dua orang,” kata Ida Marlina, guru asal Kalimantan Barat.

Senada dengan Ida, Tanawat Suwannapan, guru asal Thailand, dan Hsan Myint Oo, guru asal Myanmar, juga senang dengan program pertukaran guru ini. Mereka mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengajar di Australia.

“Program ini sangat luar biasa. Kami bisa belajar satu sama lain. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda. Kami belajar empati satu dengan yang lainnya. Apalagi di zaman globalisasi ini, kita hidup dengan perbedaan budaya dan bagaimana kita hidup rukun bersama, menurut saya program ini adalah jawabannya,” kata Tanawat.

Direktur Eksekutif Asia Education Foundation Hemish Curry mengatakan program BRIDGE antara Indonesia dan Australia merupakan program terlama di kawasan Asia. Dia senang program kemitraan Indonesia-Australia ini sudah berjalan selama 10 tahun dan berharap program ini akan terus berlanjut.

“Program ini sudah berjalan selama 10 tahun sejak 2008, beasiswa bagi ratusan sekolah, guru-guru, murid-murid di antara dua negara. Dari data selama 10 tahun itu, sebanyak 63 persen jalinan beasiswa ini masih terus berjalan, meski hanya program 1 tahun tapi bisa berlangsung jangka panjang, dan mempererat hubungan kedua negara,” kata Curry.

Curry menambahkan, selama tinggal di Australia, guru-guru ini disebar ke berbagai wilayah di Australia, seperti Perth, Adelaide, Melbourne, dan lain sebagainya, untuk mengajar bersama guru-guru Australia. Dia mengatakan program ini telah berhasil membuka wawasan dan memberikan sudut pandang baru tentang Indonesia maupun Australia.

Foto: Istimewa

“Di antara kedua negara, ketika kamu belajar budaya negara lain, kamu mulai menghormati sejarah, bahasa, dan perbedaan-perbedaan yang menjadikannya spesial. Mereka punya asumsi-asumsi tentang Indonesia dan begitu juga sebaliknya Australia tentang pandangan budaya. Tapi, ketika kamu belajar bersama, kamu menyadari banyak hal luar biasa yang bisa dikerjakan bersama, dan bisa membangun program bersama yang mengagumkan,” ujar Curry.

Program BRIDGE School Partnership ini merupakan program pertukaran guru, siswa, dan komunitas sekolah antara Asia dan Australia. Para siswa BRIDGE ini berkolaborasi dalam berbagai kegiatan, berlatih kemampuan berbahasa, menjalin hubungan pertemanan antarsiswa dan sekolah.

Sistem yang digunakan dengan sistem belajar campuran, tatap muka, pembelajaran online, dan program homestay internasional dengan sekolah-sekolah yang telah menjadi mitra program ini.

Indonesia telah membuat program bahasa Inggris, proyek seni, semua yang mereka kerjakan antara sekolah Indonesia dan Australia. Dan program tersebut masih berjalan setelah 10 tahun,” puji Curry. (Awib)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here