Kredit Kuliah Bisa Dibayar Setelah Kerja

0
132
Sumber foto: KSP

Konsumen biasanya menggunakan kredit untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif (belanja) dan atau buat modal usaha. Namun ada pula kredit untuk layanan jasa, khususnya pendidikan (baca: kuliah).

Seperti yang dikutip dari Kompas.com (16/3), pemerintah mulai memikirkan bagaimana kredit pendidikan atau student loan bagi pelajar perguruan tinggi di Indonesia dapat dilaksanakan kembali.

Melalui program ini, pelajar bisa mencicil biaya perkuliahannya ketika sudah diterima di dunia kerja. Tentu program semacam ini sangat membantu pelajar yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Ide dimunculkannya kembali program ini pertama kali diungkap oleh Presiden Joko Widodo saat bertemu bos-bos perbankan Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3). Jokowi meminta perbankan mengeluarkan produk finansial baru berupa kredit pendidikan atau student loan

“Saya ingin memberi PR kepada bapak ibu sekalian. Dengan yang namanya student loan atau kredit pendidikan,” kata Jokowi.

Jokowi berkaca pada Amerika Serikat. Di sana, total pinjaman kartu kredit mencapai USD 800 miliar. Sementara, total khusus kredit pendidikan lebih besar nilainya, yakni mencapai USD 1,3 triliun.

Jokowi ingin Indonesia juga demikian. Masyarakat dih  arapkan mengubah pola konsumtifnya dari barang ke jasa pendidikan.

“Kalau di Indonesia bisa seperti ini, yang konsumtif akan pindah ke hal-hal yang produktif ya. Nantinya juga akan memberikan nilai tambah pada intelektualitas, visi ke depan yang sangat basic yaitu bidang pendidikan,” ujar Jokowi

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso yakin ide Presiden ini dapat terwujud. Sebab, penerapannya tidak membutuhkan peraturan khusus. Tinggal dibuat aturan teknis di level perbankan soal tata cara pembayarannya saja.

“Kalau KTA kan bayarnya bisa setiap bulan. Nanti student loan itu ada opsinya mau bayar tiap bulan, mau bayar nanti kalau dapat beasiswa, atau kalau sudah kerja. Bunganya juga harus sangat rendah, murah,” ujar Wimboh.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menambahkan, perbankan merespons positif ide Presiden Jokowi. Sebab, hal yang menjadi kekhawatiran perbankan sebelumnya soal program ini sebenarnya sudah teratasi, yakni kredit macet.

“Isu utamanya di Indonesia dulu itu NIK kan. Karena tidak ada elektronik identifikasi, kadang- kadang orang itu berpindah-pindah, susah. Nah sekarang dengan Dukcapil semoga kita bisa memberikan kredit kepada orang yang berpindah-pindah itu. Mahasiswa itu kan biasanya berpindah-pindah tempat tinggal,” ujar Kartika.

Untuk lebih memberikan jaminan lagi bagi perbankan, dapat juga diterapkan sistem kluster bagi mahasiswa calon pemohon student loan. Permohonan student loan pun bukan dilakukan di bank, melainkan di loket perguruan tinggi.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir menambahkan, program ini sebenarnya pernah diterapkan di Indonesia. Salah satunya di era 80-an. Ia mengaku mengalaminya sendiri sebagai mahasiswa penerima student loan.

Sumber foto: en-tran-ce.org

“Dulu tahun 1985 saya pernah ikut student loan. Kalau dulu tidak ada bunga, setelah bekerja 2 atau 3 tahun, langsung saya bayar lunas. Pinjamannya kalau enggak salah Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Zaman itu, duit segitu gede banget,” ujar Nasir.

“Saya pada prinsipnya senang sekali kalau ada student loan. Itu mempercepat kelulusan mahasiswa tingkat akhir yang terhambat karena enggak punya uang untuk praktik, untuk riset. Kalau ada dana itu, sangat menyelesaikan masalah,” ujar Nasir.

Namun ada beberapa persoalan sehingga program tersebut terpaksa dihentikan. Salah satunya, tidak sedikit mahasiswa yang tidak membayar tanggungannya.

“Rata-rata enggak bayar semua. Ijazah memang ditahan, tapi mereka enggak butuh ijazahnya karena dia cukup fotokopi dan legalisir. Nah ijazah legalisirnya itu yang dibawa ke mana-mana,” ujar Nasir.

Nasir memastikan, potensi persoalan dalam program student loan telah ditelaah Kementerian Bidang Perekonomian. Bersama-sama Kementerian Keuangan, rencana program tersebut akan dikaji agar tepat sasaran dan tetap memungkinkan berjalan dari sisi bisnis perbankan. (Awib)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here