ITB Siapkan 4 Kompetensi Mahasiswa Hadapi 2030

0
266
Sumber foto: itb.ac.id

Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menyiapkan diri menghadapi era teknologi digital 2025-2030. Upaya itu dilakukan melalui penyiapan kurikulum di lingkungan civitas akademik ITB.

Rektor IRB, Prof Dr Ir Kadarsyah Suryadi DEA, menyampaikan bahwa pertemuan Europe Rektor Meeting tahun 2017 lalu memprediksi ada 60 persen lapangan kerja yang tidak ada hari ini. “Hal ini mirip dengan lima tahun lalu dengan adanya gojek yang mereka tidak tahu bakal ada,” papar Rektor.

Sementara prediksi tahun 2030, sekitar 50 persen lapangan kerja akan didominasi oleh teknologi komputer. Selanjutnya makin ke sana pekermbangan dan perubahan semakin cepat.

Sumber foto: itb.ac.id

“Oleh karena itu sebetulnya kurikulum yang harus kita lakukan adalah hal yang fundamental,” kata Kadarsyah usai menggelar rapat pleno dengan Mentristek Dikti di Gedung MWA, ITB, Kamis lalu.

Kurikulum tersebut, menurut Rektor, pertama: mahasiswa harus menguasai coding dan programming. Karena ketika mereka nanti membuat produk untuk jualan, mereka juga harus memiliki kemampuan membuat website.

Kedua: mahasiswa harus memiliki kemampuan data analitik. Karena sekarang muncul big data, sehingga bila tidak memiliki kemampuan tersebut mahasiswa akan kerepotan.

“Untuk program studi dan level tertentu, mahasiswa harus mempunyai kemampuan artifisial intelijen, misal aplikasi waze, itu kan didalamnya program artifisal intelejen yakni si software berpikir sendiri untuk membantu kita. Ke depan ini yang lebih dibutuhkan,” ungkap Rektor.

Keempat yang tak kalah penting adalah softskill fleksibility  dan sistem sustainability. Artinya siapapun lulusannya, ke depan harus bisa dan memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan termasuk di tahun 2025.

“Oleh karena itu prodi apapun yang kita bikin harus punya kemampuan dasar ini. Sehingga ketika memasuki 2025, anak-anak kita sudah siap,” ungkap Rektor.

Namun menurutnya, empat hal tersebut tidak meninggalkan yang lain. Orang tetap perlu makan dan minum, perlu sehat, dan perlu energi, “Maka perkuatlah bidang studi masing-masing. Seperti prodi pangan harus kuat  di pangan, pertanian harus kuat pertanian,” pungkasnya.

Awib Lomanis

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here