Wujudkan Sekolah Ramah Anak

0
138
Foto: Istimewa

Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa sekolah adalah tempat yang aman, nyaman dan sejahtera bagi anak-anaknya. Beberapa sekolah mungkin demikian. Namun banyak juga siswa yang merasa tertekan di sekolah dan bahkan merasakan bahwa sekolah tidak aman bagi dirinya.

Banyak kasus yang merupakan kekerasan fisik yang terjadi di sekolah. Ada juga kejadian menyakitkan yang menimpa siswa secara psikologis yaitu kekerasan verbal. Ejekan yang diterima siswa dari teman-temannya, dikucilkan, dicap bodoh, pembuat onar, dikatakan banci dan lain sebagainya yang membuat seorang siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman di sekolah.

Beberapa sekolah yang lingkungannya masih kotor, halamannya gersang, suasana di kelas yang panas, kondisi toilet yang memprihatinkan sampai-sampai anak takut ke toilet karena gelap dan pintunya rusak.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka gerakan sekolah ramah anak memang hendaknya segera diwujudkan pada semua sekolah. Sekolah ramah anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab.

Sekolah ramah anak sejalan dengan konsep school well being yang di kemukakan oleh Konu dan Rimpela yang meliputi having, loving, being dan health. (1)  Having (kondisi sekolah) mencakup : lingkungan fisik sekitar sekolah, yaitu tentang lingkungan yang sesuai untuk belajar siswa, kenyamanan, tidak ada kebisingan, kesejukan serta pencahayaan yang cukup;

Kurikulum atau pelajaran yaitu berkaitan dengan jadwal pelajaran, tugas-tugas yang diberikan, dan hukuman yang diterima oleh siswa jika terjadi pelanggaran peraturan; yang terakhir adalah pelayanan, yaitu mengenai fasilitas layanan yang disediakan oleh sekolah untuk siswa, seperti : kantin, toilet, tempat konseling, UKS, perpustakaan dan tempat ibadah.

(2) Loving (hubungan sosial) merujuk pada lingkungan pembelajaran sosial, menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, hubungan dengan teman di kelas, dinamisasi kelompok, tidak terjadi bullying, kerjasama antara sekolah dan rumah, dan iklim sekolah.

(3) Being (pemenuhan diri) merupakan adanya penghormatan terhadap individu sebagai seseorang yang berharga dalam masyarakat. Dalam konteks school well being dapat diartikan sebagai cara sekolah memberikan kesempatan pada siswa untuk mendapatkan pemenuhan diri, yaitu untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan talenta siswa sesuai bakat dan minat siswa.

(4) Health (kesehatan) status kesehatan, yakni tidak adanya sumber penyakit dan siswa sakit. Meliputi segi fisik, contoh: penyakit flu, sakit kepala, sakit di bahu dan lain-lain, dan dari segi mental siswa, seperti simptom psikosomatis.

Jika semua sekolah sudah memperhatikan kesejahteraan siswa dengan mampu menciptakan kondisi sekolah yang kondusif. Serta membangun hubungan sosial yang harmonis dengan semua warga sekolah termasuk dengan orang tua/wali siswa.

Juga terbangun rasa saling menghormati dan menghargai, memberikan kesempatan bagi pengembangan bakat dan minat siswa, menciptakan lingkungan yang sehat, maka sekolah ramah anak yang diidamkan semua pihak akan terwujud dengan baik.

Erna Retnaningsih, MPd

Guru BK SMPN 2 Bantul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here