PTS Tidak Sehat, Pilih Gulung Tikar Atau Merger?

0
276
Foto: Pexels.com

Perguruan Tinggi dengan kategori jumlah mahasiswa yang tidak melebihi 1000 akan dimerger atau penggabungan  beberapa kampus. Namun “ancaman” ini dianggap sebagian PTS justru solusi dari kebangkrutan alias tutup.

Persaingan penyelenggaraan perguruan tinggi di Indonesia demikian ketatnya. Tidak heran tiap kampus memeras otak melakukan strategi terbaik dalam menjaring mahasiswa. Tanpa itu, maka bersiap-siap saja untuk memilih merger atau gulung tikar?

Diakui banyak faktor yang bisa menyebabkan sebuah kampus gulung tikar. Mulai dari ekses lemahnya perekonomian, manajerial yang tidak benar, pengelola tidak kreatif, lemahnya SDM, hingga banyak dibukanya penerimaan mahasiswa di luar jalur SPMB (sistem penerimaan mahasiswa baru).

Kabar terkini, Kemenristek Dikti segera melakukan penggabungan (merger) PTS yang berada di bawah yayasan yang sama. Tercatat, sebanyak 200 PTS lebih siap untuk dimerger.

Dirjen Kelembagaan Kemenristek Dikti Patdono Suwignjo menyatakan, merger PTS gelombang pertama ini akan rampung pada bulan Maret 2018. Setelah rampung, Kemenristek Dikti akan kembali membuka pendaftaran bagi PTS yang ingin merger.

“Nah, tapi untuk gelombang kedua nanti, yang dimerger adalah PTS dari yayasan yang berbeda,” kata Patdono kepada media, Sabtu (6/1).

Menurutnya, penggabungan PTS yang berbeda yayasan akan sedikit lebih rumit. Sebab, setiap PTS memiliki pemimpin dan akreditas yang berbeda-beda juga.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) terkait solusi akreditasi, bagi PTS yang hendak melakukan merger.

“Makanya kami negosiasi terus, dan akhirnya sepakat, untuk PTS yang akan di merger itu akan mengikuti PTS yang akreditasinya paling bagus,” tegas dia.

Sumber foto: disabilitycarecenter.org

Karena itu dia terus mendorong agar lebih banyak lagi PTS yang melakukan merger. Dia menegaskan, jumlah PTS yang terlalu banyak menyulitkan pemerintah untuk bisa mengontrol dan memastikan mutu dan layanan pendidikan yang baik.

Hal ini seperti dilema bagi kampus kecil yang masih dalam kategori “sehat”. “Persaingan dan persyaratan semakin ketat dalam rangka peningkatan mutu, di sisi lain biaya operasional juga semakin besar,” ungkap Kartikasari, seorang pengamat pendidikan di Indonesia.

Menurutnya, kampus kecil memang berpotensi gulung tikar, “Tapi kalau tutup, bagaimana nasib mahasiswa? Mungkin solusinya ya merger,” pungkas Kartika yang juga dosen di sebuah PTS Yogyakarta.

Lomanis

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here