Komando Aksi Sukarelawan Adakan Pendidikan Mitigasi Bencana

0
210
Foto: Istimewa

Di tengah kondisi Gunung Agung yang mengalami erupsi dan dampaknya terhadap sektor pariwisata Bali, Komando Aksi Sukarelawan sebagai organ taktis ormas Barisan Penegak Trisakti Bela Bangsa (Banteng Indonesia) telah melaksanakan tugas kemanusiaan dalam bentuk Pendidikan dan Latihan Khusus Tanggap Bencana Gunung Agung di UPTD Pertanian Rendang, yang dibuka Sabtu (16/12).

Kegiatan tersebut dihadiri Tenaga Profesional Pendamping Desa Program Pemberdayaan, Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kabupaten Karangasem yang diisi narasumber dari PVMBG, BPBD Bali dan PMI Bali.

Acara dimoderatori oleh tenaga ahli Kabupaten Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) yang juga berperan sebagai Fasilitator Kabupaten (FASKAB) P3MD Kemendesa di Kabupaten Karangasem, I Ketut Wijaya Mataram. “Selain membantu logistik bagi pengungsi, kita pendamping desa juga memberdayakan masyarakat desa terdampak dengan pelatihan-pelatihan ekonomi produktif yang bisa dilaksanakan di pengungsian,” I Ketut Wijaya.

Wakil Ketua PMI Bali I Gede Sudiartha, menyambut baik dan mendukung Diklatsus Tanggap Bencana Gunung Agung Komando Aksi Sukarelawan yang menyasar pada upaya membekali kepada pendamping desa (P3MD) Kabupaten Karangasem, khususnya desa terdampak dengan update perkembangan Gunung Agung sebagai bentuk pendidikan mitigasi bencana.

Selanjutnya, Kepala Bidang Tanggap Darurat dan Kegawatdaruratan BPBD Bali, I Komang Kusumaedi, mengapresiasi kinerja pendamping desa Karangasem karena telah ikut berperan dalam membantu pendataan kebencanaan serta bersinergi dengan ormas Banteng Indonesia untuk berkegiatan sebagai bentuk tanggungjawab kemanusiaan.

BPBD Bali memberikan masing-masing pendamping desa Alat Pelindung Diri (APD) berupa jas anti hujan abu vulkanik, masker dan kacamata yang dapat digunakan jika terjadi hujan abu saat melakukan pendampingan di desa.Ini salah satu bukti atensi dan apresiasi BPBD Bali untuk Pendamping Desa. Dari pihak Komando Aksi Sukarelawan Banteng Indonesia memberikan tambahan seragam kain, kaos, topi rimba, senter, masker dan kaca abu vulkanik kepada peserta diklatsus.

Sedangkan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, PVMBG I Gede Suantika menyebutkan pihaknya tidak bisa menjawab kapan waktunya Gunung Agung meletus, PVMBG hanya bisa memberikan data-data pengamatan dan akan menginformasikan secepatnya jika terjadi perubahan prilaku geologi Gunung Agung.

Gede Suantika mengingatkan salah satu rumus untuk perkecil resiko korban bencana, antara lain dengan cara  meningkatkan kapasitas.  “Kapasitas individu warga, kapasitas relawan, kapasitas petugas dalam menyikapi bencana itu perlu ditingkatkan, dengan adanya pelatihan, simulasi, focus group discussion, dan sebagainya, seperti yang hari ini dilakukan,” sarannya. Demikian beliau sekaligus membuka secara resmi Diklatsus Tanggap Bencana Gunung Agung Komando Aksi Sukarelawan Banteng Indonesia.

Pada hari yang lain, Diklatsus Tanggap Bencana Gunung Agung Komando Aksi Sukarelawan Banteng Indonesia materi diisi oleh Kabid Daya Tarik Wisata Pemkot Denpasar, Gusti Agung Komang Widnyana.

“Walaupun Denpasar jauh dari pusat erupsi, tapi Denpasar juga terdampak.Di Denpasar juga terdata ada posko pengungsian.Kehadiran saya mewakili Pemkot Denpasar sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dimana ada upaya penanganan berjangka pendek dan berjangka panjang. Saya yakin Pemkot Denpasar bersama Kabupaten lain telah berupaya bagaimana memulihkan sektor pariwisata. Dengan pulihnya pariwisata akan menciptakan daya beli sehingga bisa membelanjakan uangnya untuk membeli produk Bapak/Ibu, walaupun untuk sementara masih di pengungsian. Karena bencana gunung api tidak bisa kita prediksi sampai kapan berakhir,” Gusti Widnyana.

Ketua Umum Barisan Penegak Trisakti Bela Bangsa (Banteng Indonesia), Ir.I Ketut Guna Artha mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan Pendidikan dan Latihan Khusus Tanggap Bencana Gunung Agung.

“Dengan keterbatasan waktu dan sumber daya yang ada kami belum bisa menjangkau pelayanan untuk bayi dan lansia di pengungsian. Dengan tim relawan yang hadir dari luar Bali kami hanya bisa berbagi keceriaan dengan anak-anak usia dini dan SD. Karena sedari awal fokus utama kami dalam organ taktis Komando Aksi Sukarelawan Banteng Indonesia adalah mengedukasi pemuda, masyarakat dan perangkat desa-desa terdampak agar mengenali produk erupsi Gunung Agung, mengenali bahayanya yang lebih dikenal dengan istilah mitigasi, untuk meminimalisir korban serta bagaimana mengupayakan tindakan pertolongan dan penyelamatan bila terjadi kemungkinan bencana terburuk.”

Foto: Istimewa

Ditambahkannya, “Yang paling penting adalah bagaimana membangun solidaritas kemanusiaan dan gotong-royong menghadapi bencana sehingga masyarakat di pengungsian khususnya serta masyarakat Bali secara umum dapat kembali beraktifitas secara normal, kehidupan ekonomi normal, terbangun optimisme. Jadikan Gunung Agung sebagai sahabat. Kenali dan hindari bahayanya, tetap tenang dan waspada, maknai sisi positifnya bahwa material erupsi Gunung Agung pasti ada manfaatnya nanti untuk kehidupan masyarakat Bali,” I Ketut Guna Artha

Penutupan tugas kemanusiaan Komando Aksi Sukarelawan dalam format diklatsus tanggap bencana Gunung Agung yang berlangsung tanggal 16 – 21 Desember 2017 ini ditutup oleh Camat Rendang, Wayan Mastra, SH.

“Saya juga berterimakasih kepada Presiden Jokowi atas atensinya yang secara khusus hadir ke Bali bersama Wapres dan Kabinet Kerja untuk melaksanakan rapat terbatas tanggal 22 Desember 2017 sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa Bali masih aman untuk dijadikan destinasi wisata ditengah erupsi Gunung Agung. Pesan ini juga menunjukkan bahwa pemerintah siap menghadapi kemungkinan terburuk erupsi Gunung Agung dengan dicabutnya tanggap darurat. Namun penanganan pengungsi tetap memperhatikan tugas utama kemanusiaan,” I Ketut Guna Artha.

Hendris Abdullah
UIN Sunan Kalijaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here