Rektor UIN Sunan Kalijaga Bicara Soal Konsep Radikal yang Positif. Apa itu?

0
608
Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Jaga (Foto: SwaraKampus.com)

Momentum pada bulan November yang penting bagi bangsa ini, orang pasti akan selalu ingat dengan Hari Pahlawan, tepatnya pada 10 November lalu. Siapa pahlawan itu? Gelar ini biasanya diidentikan dengan perilaku yang dianggap heroik, mereka yang berjasa sangat luar biasa bagi bangsa dan negara. Bagaimana dengan makna pahlawan di era digital hari ini?

Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Jaga, memaknai kepahlawanan terkait dengan mereka yang berani bertindak secara radikal. Radikal di sini bukan dalam pengertian kata yang negatif, namun sebagai kata yang positif. “Radikal yang benar saya contohkan ialah Sumpah Pemuda. Mereka ini diseleksi supaya menjadi antek belanda, tetapi kemudian mereka berbalik melawan tuannya. Kemudian berani menyatakan diri secara kolektif untuk bersatu,” jelasnya saat ditemui di kantornya.

Dalam konteks hari ini, yakni masyarakat teknologi, ciri khas kepahlawanan tetap sama dengan dulu. Hanya saja, gerakan dan cara berpikirnya memang sudah harus berubah. “Ciri Pahlawan itu satu, mempersatukan, kedua memerdekakan dan yang ketiga membebaskan,” imbuhnya lagi.

Seseorang yang memiliki jiwa kepahlawanan harus mampu melakukan ketiga hal tersebut. Disinilah kelompok radikal yang benar, yakni mempersatukan, memerdekaan dan membebaskan, memiliki peran yang unik dengan mendesak proklamasi kemerdekaan pada waktu itu.

Dalam konteks Indonesia, sebagai negara yang bersatu karena perbedaan, makna pahlawan tentu untuk mereka yang memiliki komitmen menjaga persatuan dan kesatuan. “Kepahlawanan itu intinya menjaga kesepakatan. Dalam bahasa agama namanya Ijma. Jadi yang namanya pahlawan ialah tindakan oleh siapapun yang berusaha mewujudkan kesepakatan bersama. Kalau hari ini yang menjaga 4 pilar yakni Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya lagi.

Untuk menjadi pahlawan, seseorang harus memahami perannya. Dalam Al-Qur’an jelas diterangkan bahwa manusia diturunkan ke bumi tidak lain ialah supaya ia menjadi Khalifah. Menjaga dan mengelola bumi yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Al-Qur’an juga menyebut Khalifah yakni orang yang mampu mengelola khilaf dan ikhtilaf. Konsep ini berbeda dengan konsep Khilafah yang menekankan kepada sebuah sistem. Syarat untuk menjadi Khalifah dalam A-Qur’ant idaklah menekankan kepada agama tertentu. Apabila ini kita tarik lagi yang dimaksud ialah nama-nama. Yakni title yang dimiliki oleh seseorang untuk bersaing.

Kedua, syarat untuk menjadi Khalifah ialah menang tanding. Menang tanding bisa dilakukan dengan berbagai cara. “Salah satunya melalui pewarisan, musyawarah mufakat, fit and proper test, atau dalam keadaan buntu dan jadi jalan terakhir itu ialah perang,” jelas Rektor UIN.

Peran Mahasiswa

“Kepahlawanan hari ini bagi mahasiswa ya nama-nama itu tadi. Apa saja? IPK, lulus harus Cumlaude,” Sambungnya. Hal-hal yang harus dilakukan seperti berperilaku disiplin dan kuliah dengan baik merupakan pintu awal untuk mewujudkan cita-cita seorang mahasiswa. Memiliki berbagai kecerdasan seperti kecerdasan administratif, ilmiah, sosial, dan spiritual. Kecerdasan inilah yang merupakan lapis-lapis kepahlawanan mahasiswa

Suasana wawancara rektor UIN Sunan Kali Jaga (Foto: SwaraKampus.com)

Yang kedua menjadi aktivis kampus. “Selain IPK-nya tinggi ia juga memiliki kepekaan sosial. Tapi jangan menjadi radikal dalam arti negatif. Aktif di organisasi intra dan ekstra kampus. Serta mendalami academic writing,” jelasnya.

Mahasiswa memang sudah semestinya membiasakan diri dengan menulis. Menulis akademik akan mempermudah mahasiswa untuk mencapai studinya hingga tingkat tertinggi. Karena, apabila ia tidak memiliki basic kepenulisan yang bagus, akan sulit baginya untuk mempraktikan dan mengembangkan penelitian atau yang lebih spesifik, walaupun ia telah memahami teori tentang metode penelitian namun tidak memiliki basic menulis maka itu juga akan menjadi penghambat baginya untuk melangkah.

Selain memberkuat ranah keilmuan mahasiswa, sebagai institusi pendidikan UIN juga ikut serta mengawal kedaulatan bangsa. Salah satunya ialah mendirikan Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara. Pusat Studi ini didirikandalam rangka melibatkan kepahlawanan mahasiswa.
“Ini supaya kita memiliki peran besar terhadap bangsa ini. kalau kita memiliki link besar maka akan menjadi orang besar. Kita beri saluran besar dan membuka jaringan luas kepada mahasiswa supaya memiliki peran,” jelasnya lagi.

Pusat Studi Pancasila juga di proyeksikan untuk memperkuat kepahlawanan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga secara keseluruhan dalam berkiprah secara nasional. Sehingga 5 tahun ke depan, mahasiswa sudah siap ketika mereka menjadi tokoh nasional.

Yang tidak kalah menariknya lagi, direncanakan tahun depan pada tanggal 2-7 Juli 2018 UIN akan membuat program bernama Gelora Pancasila. Acara ini rencananya akan dilakukan seminggu penuh dan dibuka oleh Presiden langsung. Mengundang pembiacara dan mengupas sila Pancasila yang akan diisi oleh berbagai menteri seperti Kemenag, Menkopolhukam, Kemendagri, Menteri Keuangan Srimulyani dan tokoh besar lainnya.

Pesertanya merupakan delegasi dari seluruh kampus yang ada di Indonesia. “Ini supaya mahasiswa memiliki jaringan yang luas. Karena bagaimanapun masa depan ada di tangan pemuda khususnya mahasiswa. Kegiatan ini untuk memperingati dekrit 5 Juli 1959. Yang isinya kembali ke Pancasila, UUD 45 dan pembubaran konstituante,” tuturnya.

Berbagai kegiatan dalam acara ini nantinya antara lain ialah malam budaya, call for pappers, lomba menulis tentang Pancalisa tingkat SD, SLTP dan SLTA secara Nasional. Selain itu akan diadakan lomba catur Nasional, lomba Badminton khusus para rektor PTKIN.

Rektor UIN Sunan Kali Jaga bersama Tim SwaraKampus.com (Foto: SwaraKampus.com)

Reporter : Tri Muryani

Mahasiswa Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here